Pria Terhebatku
Oleh : Eltita Natalia
Sedihku, tangisku bukanlah bagianmu
Larahku, gemuruhku bukanlah bagianmu
Itu tidak menjadi urusanmu bagi
seorang aku
Jangankan seluruh demikian
Sedikit dari itu tidak juga jadi bagianmu
Bahkan air mata juga pernah hadir
membanjir
Dihari yang tak seharusnya kuterima
dari kasihmu
Seluruh sebagian
Sekecil sebesar
Tidak jadi urusanmu
Namun kini aku sudah belia
Sudah tak mungil sudah tak merengek
Aku kini anak gadis
Lihatlah
Senyumku tak lagi hanya menyengir
Senyumku sudah terlihat memikat
Agar aura terpandang merekah
Kelak dimiliki sang pencuri hati
Tak lagi penting bagian manisku
Sekarang pribadimulah
Yang hendak kututurkan lewat tulisku untukmu
Lihatlah pertanda karya sederhana
bagimu
Bagimu
Baik kumulai
Kukenal tawamu yang hadir di ramainya
yang tak asing bagimu
Kukenal tawamu yang ada di ramainya bahagiamu
Kukenal tawamu dari tulusnya pada jiwa
yang tulus pula
Semua mampu bagimu
Lihatlah langit malam sehabis hujan
lebat
Ada satu terlihat kemudian satu
terlihat lagi
Perlahan-lahan tertemukan bola mata di
langit atas
Kerlap-kerlip hampir tak tersentuh
mata
Tapi mata yang kumilki mampu
menangkapnya
Itulah gambaranmu
Sejatimu telah kau tebarkan
Tak pedulimu besar, kecilkah
Tak pedulmui lelah, bugarkah
Tak pedulimu larut, lekaskah
Tak pedulimu semua hal-hal demikian
Itu hebatmu!
Tidak bara yang kau beri saat kubutuh
Tidak api yang kau beri saat kubutuh
Tidak angin, tidak air
Tidak dingin, tidak tawar
Selalu percaya
Itu ujarmu
Semua usaha terkerjakan tangan kuatmu
Tak memandang rumit rugimu
Semua hal kau coba lakukan
Semampu daya diri berkarya
Demi kami, juga aku
Tangan hitam
Hitam tangan
Tetap kau buat perbatasan
Asal layak asal cukup tetap usahamu
terlihat
Meski susah bagimu digapai
Tak kau tuturkan
Kata "sudahlah"
Melainkan
Selalu ada yang terbaik
Terik mentari tidak lebih keji dari
mati hari kami
Hujan deras tidak lebih kejam dari air
mata kami
Semua kau lakukan
Sekali lagi
Demi kami, demikian juga aku
Kala berganti usahamu
Kala berganti keras hidup
Kala berganti bertambah letih
Bukan keluhanmu
Jangankan kaki yang terendam lumpur
Jangankan tangan yang tersiram
comberan
Gunungan sampah-sampah menjulang
tinggi
Hirupan bau membusuk menyengat
merangsang muntah
Itu tak masalah jadi angkutan bagimu
Bajumu berbau
Bajumu kotor
Keringat bukan lagi kecut melainkan
aroma sangat tak sedap
Itu juga pun bukan masalah bagimu
Itu semua demi kami
Kami yang juga aku
Tapi lihatlah lagi
Tak enggan kau meraba sapu
Bersih bagian terbesarmu
Tak enggan kau menanak nasi
Bersama bagian bahagiamu
Meski ada sepasang bola yang
tertujukan pada anak gadismu
Menamparkan kurang lihainya pribadi kami
Bukan lagi ujaran yang terlontar saat
itu
Tapi perbuatan nyatamu mendidik kami
Satu lagi
Rangkaian kata lebih indah nan indah jadi
pedoman hidup kami
Apakah itu
Bangun di pagi senja
Melipat jari tangan
Menunduk dan menutup mata dalam tenang
Bersama, tidak sendiri saja
Berbicara merdu nan merdu
Dalam doa pagi kita
Siapakah gerangan hebat itu ?
Siapakah dia yang terpuja-puja dalam
tulisku ini
Dia seorang ayah
Bapakku yang hari ini bertambah
usianya
Bertambah pulalah bahagiamu bapakku,
amin J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar