Kamis, 02 April 2015

Pria Terhebat di Duniaku


Pria Terhebatku 
Oleh : Eltita Natalia

Sedihku, tangisku bukanlah bagianmu
Larahku, gemuruhku bukanlah bagianmu
Itu tidak menjadi urusanmu bagi seorang aku
Jangankan seluruh demikian
Sedikit dari itu tidak juga jadi bagianmu
Bahkan air mata juga pernah hadir membanjir
Dihari yang tak seharusnya kuterima dari kasihmu

Seluruh sebagian
Sekecil sebesar
Tidak jadi urusanmu

Namun kini aku sudah belia
Sudah tak mungil sudah tak merengek
Aku kini anak gadis
Lihatlah
Senyumku tak lagi hanya menyengir
Senyumku sudah terlihat memikat
Agar aura terpandang merekah
Kelak dimiliki sang pencuri hati

Tak lagi penting bagian manisku
Sekarang pribadimulah
Yang hendak kututurkan lewat tulisku untukmu
Lihatlah pertanda karya sederhana bagimu
Bagimu

Baik kumulai

Kukenal tawamu yang hadir di ramainya yang tak asing bagimu
Kukenal tawamu yang ada  di ramainya bahagiamu
Kukenal tawamu dari tulusnya pada jiwa yang tulus pula
Semua mampu bagimu

Lihatlah langit malam sehabis hujan lebat
Ada satu terlihat kemudian satu terlihat lagi
Perlahan-lahan tertemukan bola mata di langit atas
Kerlap-kerlip hampir tak tersentuh mata
Tapi mata yang kumilki mampu menangkapnya
Itulah gambaranmu

Sejatimu telah kau tebarkan

Tak pedulimu besar, kecilkah
Tak pedulmui lelah, bugarkah
Tak pedulimu larut, lekaskah
Tak pedulimu semua hal-hal demikian
Itu hebatmu!

Tidak bara yang kau beri saat kubutuh
Tidak api yang kau beri saat kubutuh
Tidak angin, tidak air
Tidak dingin, tidak tawar
Selalu percaya
Itu ujarmu

Semua usaha terkerjakan tangan kuatmu
Tak memandang rumit rugimu
Semua hal kau coba lakukan
Semampu daya diri berkarya
Demi kami, juga aku

Tangan hitam
Hitam tangan
Tetap kau buat perbatasan

Asal layak asal cukup tetap usahamu terlihat
Meski susah bagimu digapai
Tak kau tuturkan
Kata "sudahlah"
Melainkan
Selalu ada yang terbaik

Terik mentari tidak lebih keji dari mati hari kami
Hujan deras tidak lebih kejam dari air mata kami
Semua kau lakukan
Sekali lagi
Demi kami, demikian juga aku

Kala berganti usahamu
Kala berganti keras hidup
Kala berganti bertambah letih
Bukan keluhanmu

Jangankan kaki yang terendam lumpur
Jangankan tangan yang tersiram comberan
Gunungan sampah-sampah menjulang tinggi
Hirupan bau membusuk menyengat merangsang muntah
Itu tak masalah jadi angkutan bagimu
Bajumu berbau
Bajumu kotor
Keringat bukan lagi kecut melainkan aroma sangat tak sedap
Itu juga pun bukan masalah bagimu
Itu semua demi kami
Kami yang juga aku

Tapi lihatlah lagi
Tak enggan kau meraba sapu
Bersih bagian terbesarmu
Tak enggan kau menanak nasi
Bersama bagian bahagiamu
Meski ada sepasang bola yang tertujukan pada anak gadismu
Menamparkan kurang lihainya pribadi kami
Bukan lagi ujaran yang terlontar saat itu
Tapi perbuatan nyatamu mendidik kami

Satu lagi
Rangkaian kata lebih indah nan indah jadi pedoman hidup kami
Apakah itu
Bangun di pagi senja
Melipat jari tangan
Menunduk dan menutup mata dalam tenang
Bersama, tidak sendiri saja
Berbicara merdu nan merdu
Dalam doa pagi kita

Siapakah gerangan hebat itu ?
Siapakah dia yang terpuja-puja dalam tulisku ini
Dia seorang ayah
Bapakku yang hari ini bertambah usianya
Bertambah pulalah bahagiamu bapakku, amin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAHABAT

Menerima kasih sahabat Oleh : Eltita Natalia  Shopia dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatk...