Retakan Jiwa
Kala hidup tertekan. Menekan jiwa yang lemah
Kala hidup terbeban. Membebani
jiwa yang rapuh
Di mana ada perlindungan? Kemanaku berlindung ?
Kala batin tercekam, Luka-luka tak terobati lagi
Tersentuh sedikit sangat piluh, Terlihat saja sangat teriris
mata
Di mana ada pemberhentian? Di mana akau harus singgah?
Di mana aku harus diam ?
Siapa yang tahu pahitnya senyuman
Siapa yang tahu ketidakadilan hidup
Siapa yang tahu gelapnya hitam menutup putih
Siapa yang tahu?
Tanyaku?
Padamu yang mendengarku.
Kita kadang lupa, kita kadang tak sadar
Betapa berharganya sederhana dengan penghormatan
Betapa hinanya kemewahan dengan pelecehan
Aku bertanya
Tapi yang kudapat bukan jawaban
Aku bertanya
Tapi yang kudapat celotehan
Aku bertanya
Tapi yang kudapat protesan
Aku bertanya
Tapi apa dayaku?
Tanyaku jadi piluhku
Aku menyesal
Menyesal atas tangisku
Menyesal karena membagi cerita tragisku
Sebab semua hanya berbalik jadi sakitku
Tuhan di mana kasihMu? Aku tak
lagi berdaya. Aku tak lagi kuat . Semua kuatku berada pada lemahku
Datanglah Tuhan. Angkat aku, kuatkan
aku lebih lagi. Tiada lagi yang
kuinginkan. Selain dekapanMu
Angkat aku
Kuatkan aku.
Lihatlah
betapa hina hambaMu yang selalu terjatuh-jatuh pada kejihMu, lihatlah Tuhan
saat ini aku sungguh tak berdaya, aku ingin mengakhiri semua dengan bodohku.
Tolong lihat aku ya Bapa,ini terlalu sulit bagi jiwaku, hampirilah aku yang
menanti teduhnya surga kasihMu Bapa. Jangan biarkan aku mengikuti bodohku,
tolong angkat aku, kuatkan aku ya Bapaku.
Oleh
Eltita
Natalia
11
Juni 2015