Minggu, 10 Agustus 2014
puisi
Tiba-tiba tersadarku demikian:
Bahagia lagi
oleh: Eltita Natalia
Dahulu waktu masih anak-anak
aku layaknya seperti anak
yang bahagianya selalu diberi dan diberi
aku disayang
aku dijaga
aku diberikan yang terbaik
segalanya indah terlihat
juga sangat indah terasa
kemudian aku bertumbuh
menjadi remaja
yang inginnya adalah memiliki
miliki keindahan hidup
dengan caraku sendiri
merasa telah dewasa bukan lagi anak-anak
tak lama kemudian
aku pun hampir matang
tentunya dalam kedewasaan yang sesungguhnya
aku mulai sering merintih
mulai sering menangis
sering menjerit
sering meraung-raung
seolah tak puas dengan itu
aku juga berteriak
aaaaaaaaaaaaaaa............
kemudian kembali melihat apa yang telah ada
lalu terangguk-angguk
aku membisu
aku membeku
seolah tak puas juga
aku tak mau menyentuh kelam dulu
tak mau tersentuh juga sedikitpun
jangan lagi
aku mau kembali bahagia
seperti waktu kecil
aku digendong, dipeluk, dikecup
dengan ketulusan kasih sayang
dan mau dibimbing
oleh siapa yang memberikan kasih itu dengan tulusnya
aku mau
mau bahagia kembali
bahagia
bahagia
yang sesungguhnya.
Senin, 04 Agustus 2014
ARTIKEL BAHASA
Hati-hati
Bahasa Nasional Luntur !
Anak
bangsa adalah generasi penerus tanah air negara ini. Sangatlah berpengaruh
kemampuan bahasa yang mapan mengenai bahasa kesatuannya. Jika dipandang meluas
dalam keseharian, nyatanya banyak anak berdarah muda kini menggunakan ujaran saat
bercakap-cakap yang tidak sesuai aturan struktur bahasa yang dibentuk para
pakar kebahasaan. Bukannya untuk menuntut kebakuan bahasa yang sempurna,
melainkan aplikasi harapan bangsa ini terlalu minim dalam menjunjung tinggi
Bahasa Indonesia.
Perasaan yang terlalu terombang-ambing
dalam berbahasa yang benar membuat kecanggungan yang berkelanjutan hingga
membudidayakan bahasa yang tidak sesuai kaidah menjadi sebuah kebiasaan. Tidak
hanya kebiasaan semata namun juga berkesinambungan pada seluruh pemuda-pemudi
bangsa ini. Faktanya anak-anak yang beranjak remaja sudah terhanyut dalam
bahasa yang memiliki huruf-huruf alay yang kian populer dalam kebahasaan mereka
di mana pun saat komunikasi terjadi.
Hingga sampainya remaja pada tahap dewasa sebagai pemuda- pemudi yang sebagiannya
adalah beridentitas mahasiswa. Realita yang sering ditemukan tidak sedikit
mahasiswa yang terlena dalam kesalahan berbahasa Indonesia. Dapat kita lihat,
ketika mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia bertugas mempersentasikan sebuah
materi di depan kelas. Banyak kesalahan penyampaian Bahasa Indonesia yang
digunakan, contohnya “kek nya itu
salah menurut kami “, “kek gitu lah”.
Hal –hal kecil ini dapat menjadi sebuah pernyataan sederhana yaitu kebiasaan
yang merajalela dikeseharian mahasiswa tersebut dalam menggunakan Bahasa
Indonesia yang tidak benar. Bayangkan saja,
jika mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia pun mengalami penyelewengan
berbahasa, bagaimana lagi jika mahasiswa dengan jurusan lainnya dalam membawa
Bahasa Indonesia pada interaksi komunikasi yang mereka jalin. Tidak dapat
dipungkiri lagi Bahasa Indonesia telah memudar di peradaban ini.
Tulisan Ahmad
Khotim Muzakka artikelnya dalam Harian Analisa yang mengutip dari Kompas bahwa Bahasa
Indonesia diproyeksikan menjadi bahasa internasional. Hal itu diungkapkan Ketua
Komisi Harian Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rahman, pada 15 November
2011. Menurutnya, Bahasa Indonesia memiliki peluang menjadi bahasa
Internasional karena tidak asing di telinga komunitas internasional. Khususnya
di negara-negara tetangga. Peluang itu dinilai lebih besar dibandingkan
berbagai bahasa di Eropa.
Bahasa
Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa
Indonesia yang lebih akrab dengan sebutan Bahasa Nasional. Bahasa Indonesia
diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan
dengan mulai berlakunya konstitusi. Sudut pandang linguistik mengatakan bahwa
Bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyaknya keragaman bahasa Melayu.
Dasar yang digunakan merupakan bahasa Melayu Riau yang saat ini di wilayah
Kepulauan Riau sejak abad ke–19. Namun diperkembangannya Bahasa Indonesia
mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan
administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.
Proses inilah yang membedakan Bahasa Indonesia saat ini dengan Bahasa Melayu
Riau.
Bahasa
Indonesia merupakan bahasa yang hidup, artinya bahasa yang terus menghasilkan
kata-kata baru yang melalui penciptaan dan penyerapan dari bahasa daerah maupun
bahasa asing. Oleh karena itu Bahasa Indonesia adalah bahasa yang tidak tetap
atau pun dapat dikatakan Bahasa Nasional ini bersifat dinamis yang terus
mengalami penambahan.
Buku
Pesona Bahasa (2005) mengutip penelitian
The Summer Institute of Linguistic bahwa
beragamnya bahasa yang ada Indonesia berjumlah 726. Keragaman suku ini lah yang
menjadi salah satu penyebab banyak warga Indonesia yang tidak menjadikan Bahasa
Nasional ini menjadi bahasa ibu. Sebagian
warga Indonesia memilih salah satu dari banyaknya bahasa yang terlahir
di aneka budaya Indonesia.
Meskipun
demikian Bahasa Indonesia mempunyai peranan yang jauh lebih penting ialah
sebagai penyambung lidah dalam komunikasi berbagai jenis daerah. Dapat dilihat dari berbagai peranan Bahasa
Indonesia yang tak tergantikan kedudukannya yang membuktikan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa Negara , bahasa Nasional Indonesia.
Bahasa
Indonesia sebagai bahasa resmi
kenegaraan. Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi
kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam segala
upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun
tulis.
Bahasa
Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan. Kedudukan kedua dari
Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan pemakaian
bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan dari taman
kanak-kanak hingga tingkat tertinggi, maka materi pelajaran yang berbentuk
media cetak juga harus berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan
menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing atau menyusunnya sendiri. Cara ini
akan sangat membantu dalam meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai
bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).
Bahasa
Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah. Kedudukan ketiga dari
Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan digunakannya
Bahasa Indonesia dalam hubungan antar badan pemerintah dan penyebarluasan
informasi kepada masyarakat.
Bahasa
Indonesia sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu
dan Teknologi. Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia
sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan
teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah
ilmiah maupun media cetak lainnya. Karena sangatlah tidak mungkin bila suatu
buku yang menjelaskan tentang suatu kebudayaan daerah, ditulis dengan
menggunakan bahasa daerah itu sendiri, dan menyebabkan orang lain belum tentu
akan mengerti.
Sehingga
dapat dikatakan dari beberapa fungsi nyata dalam keseharian bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga
Indonesia.
Akan
tetapi di dalam praktiknya pengguna Bahasa Indonesia kerap kali
mencampuradukkan Bahasa Nasional ini dengan bahasa daerah dan bahasa asing.
Hingga dapat meretakkan keutuhan Bahasa Indonesia yang benar dengan masuknya
bahasa yang tidak baku yang berlaku pada remaja dan kaum muda saat ini.
Yang
menjadi tanda awas bagi kita saat ini adalah kurangnya rasa bangga menyandang
Bahasa Nasional ini sebagai identitas negara. Meskipun kemerdekaan telah diakui
puluhan tahun, bangsa ini terus terenggut oleh bangsa lain. Dapat kita saksikan
dari berjamurnya kursus-kursus bahasa asing. Memang perlu saat ini menguasai berbagai bahasa, tetapi
perlu juga menjawab pertanyaan pada diri kita, sudahkah berbahasa Indonesia
dengan baik dan benar. Contoh kecilnya saja, bagaimana ketika menulis pesan
singkat atau menulis status di jejaring sosial.
Pentingnya
sejak muda mengamati pribadi diri agar mampu menjaga Bahasa Indonesia menjadi
sebuah Kesatuan Bahasa Nasional Indonesia. Menyadari tidak hanya lembaga Kebudayaan
Pemerintah yang wajib menjaga bahasa ini, dibutuhkan generasi muda yang tangguh
untuk mempertanggungjawabkan citra bahasa pemersatu nusantara ini ke waktu
depan agar tidak sirna begitu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
SAHABAT
Menerima kasih sahabat Oleh : Eltita Natalia Shopia dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatk...
-
Menerima kasih sahabat Oleh : Eltita Natalia Shopia dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatk...
-
Kartini memiliki peran yang berdampak bagi Indonesia. Peran tersebut dikarenakan keinginannya memajukan pemikiran wanita Indonesia men...
-
Perempuan Siro-Fenisia yang percaya Markus 7 : 24-30 “(24) Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke ...