Sembilan bulan
Oleh: Eltita Natalia
Pagi,
siang, sore, malam adalah putaran waktu yang selalu ada dalam hidup. Keluarga,
sahabat, teman, kamu dan dia juga adalah bagian dari keadaan hidup yang selalu
ada bagiku. Saat ini keluarga, sahabat, teman dan kamu adalah bagian terbahagia
yang membuatku tertawa dan menangis. Tidak dengan dia. Hari ini kamu ingat akan
aku dan dia lupa akan aku. Serta aku
ingat kamu dan dia.
“rindukah
padaku ?” Tanya kamu
“tidak”
jawabku
“rindu
pada dia?” Tanyamu lagi
“tidak
juga” ujarku datar.
Aku
tidak lagi mau mengumbar rasa yang sulit kukenal, baik itu pada keluarga,
sahabat, teman dan kamu terlebih pada hatiku yang layaknya harus terbuka untuk
yang lain.
“masihkah
mau tahu tentang yang ada pada dirinya?”
“tidak”
jawabku
“sejak
kapan? Apa sungguh?” tanyamu dengan tawa hina
“sudah
9 bulan”
Hampir
saja aku melahirkan suatu kehidupan baru. Tenang saja, jika sembilan bulan
mampu terlewati aku yakin bisa
seterusnya. Bukan aku lupa tentang rasaku akan dia, tapi boleh jadi memudarkan
rasa yang tak tersirami air murni yang mengalir dari hati juga. Seandainya kamu
bisa arungi hati ini kamu tahu nantinya apa faktanya tentang kamu dan dia.
Lihatlah,
aku sudah kuat melihat kenyataan, bukan hanya kamu dan dia saja dalam hidup
ini. Banyak kenyataan yang menampar dan meresahkan ketenangan jiwa namun dengan
hebat harus kutampar kembali hingga aku boleh puas melihat kenyataan yang ada.
Detik-detik sampai terasa terlalu lama bergerak karena tekanan yang terukir
dihati bukan karena kamu dan dia. Tapi banyak yang harus lebih siap
kuinjak-injak dan kuludahi karena sakitnya bagiku.
Kehidupanku
sempurna bukan hanya karena kamu atau dia, tetapi lihatlah keluarga yang
sederhana memancarkan sinar kemilau memberi cahaya gembira agar aku tahu
hidupku dilimpahi sukacita bahagia. Lihat juga ada pula keluarga yang lupa diri
karena limpahnya harta duniawi
mememarkan dukacita yang tak lekang terhapus zaman ke zaman karena
hinanya kusebut mereka bukan keluargaku. Sahabatku dan teman adalah
kebahagiaanku yang diliputi tawa dan gurau sesuka hati yang ada setia menemani
hidup.
Kemudian
kamu dan dia juga adalah bagian bahagia dan sedihku. Kelak mungkin kamu lupakan
aku, dan dia mengingat aku. Mungkin pula kamu lupakan aku serta dia juga
lupakanku. Boleh jadi kamu dan dia ingat aku. Entahlah aku tak peduli. Aku bahagia
apapun itu terpenting adalah nantinya merupakan kenyataan hidup yang tulus dari
kamu dan dia.
23
Oktober 2015
11:08
Medan