Jumat, 23 Oktober 2015

CERPEN



 

Sembilan bulan
Oleh: Eltita Natalia

Pagi, siang, sore, malam adalah putaran waktu yang selalu ada dalam hidup. Keluarga, sahabat, teman, kamu dan dia juga adalah bagian dari keadaan hidup yang selalu ada bagiku. Saat ini keluarga, sahabat, teman dan kamu adalah bagian terbahagia yang membuatku tertawa dan menangis. Tidak dengan dia. Hari ini kamu ingat akan aku dan dia lupa akan aku.  Serta aku ingat kamu dan dia.

“rindukah padaku ?” Tanya kamu
“tidak” jawabku
“rindu pada dia?” Tanyamu lagi
“tidak juga” ujarku datar.

Aku tidak lagi mau mengumbar rasa yang sulit kukenal, baik itu pada keluarga, sahabat, teman dan kamu terlebih pada hatiku yang layaknya harus terbuka untuk yang lain. 

“masihkah mau tahu tentang yang ada pada dirinya?”
“tidak” jawabku
“sejak kapan? Apa sungguh?” tanyamu dengan tawa hina
“sudah 9 bulan”

Hampir saja aku melahirkan suatu kehidupan baru. Tenang saja, jika sembilan bulan mampu terlewati  aku yakin bisa seterusnya. Bukan aku lupa tentang rasaku akan dia, tapi boleh jadi memudarkan rasa yang tak tersirami air murni yang mengalir dari hati juga. Seandainya kamu bisa arungi hati ini kamu tahu nantinya apa faktanya tentang kamu dan dia.

Lihatlah, aku sudah kuat melihat kenyataan, bukan hanya kamu dan dia saja dalam hidup ini. Banyak kenyataan yang menampar dan meresahkan ketenangan jiwa namun dengan hebat harus kutampar kembali hingga aku boleh puas melihat kenyataan yang ada. Detik-detik sampai terasa terlalu lama bergerak karena tekanan yang terukir dihati bukan karena kamu dan dia. Tapi banyak yang harus lebih siap kuinjak-injak dan kuludahi karena sakitnya bagiku. 

Kehidupanku sempurna bukan hanya karena kamu atau dia, tetapi lihatlah keluarga yang sederhana memancarkan sinar kemilau memberi cahaya gembira agar aku tahu hidupku dilimpahi sukacita bahagia. Lihat juga ada pula keluarga yang lupa diri karena limpahnya harta duniawi  mememarkan dukacita yang tak lekang terhapus zaman ke zaman karena hinanya kusebut mereka bukan keluargaku. Sahabatku dan teman adalah kebahagiaanku yang diliputi tawa dan gurau sesuka hati yang ada setia menemani hidup. 

Kemudian kamu dan dia juga adalah bagian bahagia dan sedihku. Kelak mungkin kamu lupakan aku, dan dia mengingat aku. Mungkin pula kamu lupakan aku serta dia juga lupakanku. Boleh jadi kamu dan dia ingat aku. Entahlah aku tak peduli. Aku bahagia apapun itu terpenting adalah nantinya merupakan kenyataan hidup yang tulus dari kamu dan dia.

23 Oktober 2015
11:08
Medan

SAHABAT

Menerima kasih sahabat Oleh : Eltita Natalia  Shopia dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatk...