Senin, 27 April 2020

SAHABAT



Menerima kasih sahabat
Oleh : Eltita Natalia 


Shopia dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatku. Shopia kukenal sejak aku belajar di SMP Negeri 11 Batam. Tak pernah kurencanakan dia menjadi sahabat. Kedekatan kami cukup aman, walau kadang tak sepaham,  lebih seringnya berusaha untuk saling memahami. Tidak dengan dia saja aku berusaha saling memahami, tetapi juga dengan Yunita. Yunita atau singkatnya Nita bukanlah nama yang tidak pernah kudengar dari Shopia. Ah, malahan aku sah berkenalan dengan Nita di SMA Negeri 5 Batam, sekolahku dulu. Hal ini dikarenakan aku dan Shopia tidak sengaja bersamaan satu sekolah lagi. Seingatku, Shopialah yang mempromosikan Nita menjadi sahabat yang baik, walau final keputusan adalah berdasarkan karakter Nita yang bisa berterima dengan kami semua.

Shopia bukan Latjuba ini dulunya adalah seorang sekretaris OSIS saat SMA. Yunita dan aku juga merupakan anggota osis. Nah, tahun pertama kami menjadi panitia MOS betul-betul hal yang kurang menarik, haha. Jelas saja, di hari pertama dijalankan MOS sudah dibatasi berskala besar seluruh kegiatan langsung oleh kepala sekolah yang menjabat saat itu. Selain menjadi anggota OSIS, kami juga berbarengan menjadi anggota ROKRIS (Rohani Kristen). Aku pun tidak ingat jelas sebab kami bisa bersama di dua organisasi. Satu lagi, organisasi yang terpaksa aku ikuti adalah PMR. Kenapa terpaksa? Pramuka dan PMR adalah ekstakurikuler yang wajib salah satu dipilih siswa saat zamanku bersekolah putih-abu-abu. Aku masih belum bisa terima akan wajibnya ekskul tersebut hingga aku selalu mengingat aku terpaksa bergabung di PMR.

Aku, Shopia, Nita tidak pernah satu kelas belajar di sekolah. Nita dan Shopialah yang pernah satu kelas belajar. Mereka adalah takdir yang baik, kenal sejak masa ingusan hingga SMA bahkan sampai pada saat kamu membaca tulisan ini, takdir itu masih sangat manis. Aku bagaikan orang ke-tiga,wkwkw. Hei, kami tidak saling menyukai sesama jenis, walau belum ada yang diberkati di altar gereja bersama lawan jenis di antara kami. Namun, data hingga saat aku menuliskan cerita ini, Shopia, Nita,dan aku merupakan perempuan yang sedang menjalani kisah asmara dengan lelaki berbeda individunya apalagi itunya, hahaha

Shopia, Nita, dan aku tanpa kesepakatan meja bundar malah menjadi mahasiswa di Medan. Sekali lagi takdir manis menegaskan, Shopia dan Nita satu universitas. Awalnya di univesitas yang sama hingga akhirnya sama-sama meninggalkan universitas tersebut pindah ke kampus yang tak sama lagi menyesuaikan kebutuhan hidup masing-masing. Persahabatan kami tetap terjalin, lewat handphone yang sudah naik kelas dari tinuttinut saat SMA berubah menjadi gawai (smartphone) saat di universitas. Hal ini karena menyesuaikan status siswa menjadi mahasiswa. Tidak mudah bagi kami bertemu bercanda-ria secara langsung dengan janjian di mall atau di kos. Lebih sering berhubungan dengan gawai meski satu kota kira-kira selama 4 tahun.

Persahabatan apa pula yang selalu ada kata sulit untuk bertemu langsung? Ya, persahabatan kami. Bertemu untuk melepas rindu, berbagi cerita, serta tertawa-tiwi bukanlah prioritas kami, hingga sampai saat ini pun tetap demikian keadaannya. Akan tetapi, Shopia dan Nita tetap mengambil peran yang baik dalam hidupku. 

Aku masih ingat betul, mereka datang menjenguk pasca operasiku di Rumah Sakit Advent Medan. Nita yang penuh kasih padaku menyisirkan rambutku yang kusut sekali. Rambut yang berhari-hari tidak dikeramas dan selalu diikat selama aku dirawat. Kau tahu, rambutku itu tidak hanya super kusut tapi juga berbau apek. Iiiuuh, aku tidak tahu bagaimana Nita menahan aroma itu, hahaha. Namun, yang kuingat dia sabar merapikan rambutku tanpa menutup hidung dan yang paling natural tanpa ekspresi wajah yang menunjukkan kejijikan yang hakiki. Nita semakin bercahaya di mataku karena satu hal penting itu. Percayalah, paribannya akan berkomentar untuk tulisan ini, komentar yang menyukakan hati Nita dan warganet yang membacanya.

Shopia adalah sahabatku yang terdekat dari beberapa yang ada. Aku tak tahu cara mendeskripsikannya yang begitu manis wkwkwk. Banyak kisah yang tak terlupakan akan kebaikannya, eakkk (mau muntah ya beb Shop). Shopiaku ini seorang yang dikelilingi keberuntungan, banyak sekali dia membagi keberuntungannya padaku. Nah, bisa juga loh kalimat buatmu tercipta, selamat beb.  Semasa kuliahnya dia sudah jadi andalan psikologiku. Kartu tarot pernah dimilikinya dan dipakainya, aku ikut serta menjadi pasiennya. “Shopia, apakah kau ingat ? kartu dengan pedang yang panjang itu yang terambil tanganku ? Kalau tidak salah pedangnya menghancurkan batu-batu yang banyak tersusun.” Ya, lalu, Shopia jelaskan makna kartu itu terhadap pertanyaanku sebelum memilih kartu itu. 

Tak lama kemudian, aku menonton atau mendengar khotbah dari pendeta yang menyinggung kartu tarot. Alamak, ternyata itu merupakan bagian okultisme. Kujelaskan pada Shopia, dengan beberapa waktu pergumulan tentang kartu itu karena belinya tidak murah, ia memutuskan membakarnya agar tidak memainkannya lagi meskipun dulu hanya berniat sebagai bentuk permainan semata. Sesuatu yang tidak bersesuain dengan putih tidaklah pernah ada baiknya karena asalnya dari ilmu hitam.

Belum lagi peran baik Shopia mengorbankan tidak kuliah satu hari karena menjaga atau merawatku di klinik. Aku tidak tahu di dalam hatinya ia menyesal atau tidak waktu itu sampai tidak kuliah karena aku membutuhkannya. Namun, yang pasti ia telah memilih daruratnya aku memerlukannya.

Saat aku lulus dari jabatan mahasiswa mereka turut jadi pelengkap kebahagiaan. Kami tidak pernah berjanji untuk selalu bersama dan saling mengasihi tetapi nyatanya bisa terwujud lebih dari sekadar kata-kata indah itu. Sungguh, aku menerima kasih dari sahabatku.






Selasa, 21 April 2020

KARTINI INDONESIA


Kartini memiliki peran yang berdampak  bagi Indonesia. Peran tersebut dikarenakan keinginannya memajukan pemikiran wanita Indonesia mengacu pada kemajuan berpikir wanita Eropa. Tentu saja keinginan ini muncul tidak secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.

Kartini lahir sebagai anak perempuan  tertua di antara saudara sekandungnya. Orangtua Kartini adalah kaum bangsawan yang memiliki peran penting dalam pemerintahan pada zamannya.  Agaknya inilah awal beberapa sebab nama Kartini jadi hebat terdengar hingga saat ini.

Sebagai anak perempuan tertua dan memiliki orangtua yang mapan maka ia memiliki kesempatan bersekolah di ELS ( Europese Lagere School ) belajar bahasa Belanda hingga usia 12 tahun. Pada usia 12 tahun ia dipingit di rumah.

Kartini tetap mengasah kemampuannya berbahasa Belanda di rumah. Ia  membaca buku-buku, majalah, dan koran Eropa. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Ketertarikan inilah yang memunculkan niat untuk memajukan wanita pribumi yang sering berada pada status sosial yang rendah.

Sesudah menikah, Kartini beruntung mendapat dukungan dari suaminya mendirikan sekolah wanita. Ah, belum sempat ia memegahkan kemajuan berpikir wanita pribumi, Kartini sudah meninggal. Sekolah wanita tersebut sebagai peninggalan terbaiknya untuk perempuan Indonesia agar mampu berada pada status sosial yang tinggi .

Bagaimana dengan kemajuan berpikir kamu sebagai perempuan Indonesia saat ini ?

Selamat hari Kartini
Wanita Indonesia Hebat 👍

Batam, 21 April 2020


SAHABAT

Menerima kasih sahabat Oleh : Eltita Natalia  Shopia dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatk...