Menerima
kasih sahabat
Oleh : Eltita Natalia
Shopia
dan Yunita adalah salah dua eh, maksudku dua orang dari empat sahabatku. Shopia
kukenal sejak aku belajar di SMP Negeri 11 Batam. Tak pernah kurencanakan dia
menjadi sahabat. Kedekatan kami cukup
aman, walau kadang tak sepaham, lebih
seringnya berusaha untuk saling memahami. Tidak dengan dia saja aku
berusaha saling memahami, tetapi juga dengan Yunita. Yunita atau singkatnya
Nita bukanlah nama yang tidak pernah kudengar dari Shopia. Ah, malahan aku sah
berkenalan dengan Nita di SMA Negeri 5 Batam, sekolahku dulu. Hal ini
dikarenakan aku dan Shopia tidak sengaja bersamaan satu sekolah lagi. Seingatku,
Shopialah yang mempromosikan Nita menjadi sahabat yang baik, walau final
keputusan adalah berdasarkan karakter Nita yang bisa berterima dengan kami
semua.
Shopia
bukan Latjuba ini dulunya adalah seorang sekretaris OSIS saat SMA. Yunita dan
aku juga merupakan anggota osis. Nah, tahun pertama kami menjadi panitia
MOS betul-betul hal yang kurang menarik, haha. Jelas saja, di hari pertama
dijalankan MOS sudah dibatasi berskala besar seluruh kegiatan langsung oleh kepala sekolah yang menjabat saat
itu. Selain menjadi anggota OSIS, kami juga berbarengan menjadi anggota ROKRIS
(Rohani Kristen). Aku pun tidak ingat jelas sebab kami bisa bersama di dua organisasi.
Satu lagi, organisasi yang terpaksa aku ikuti adalah PMR. Kenapa terpaksa?
Pramuka dan PMR adalah ekstakurikuler yang wajib salah satu dipilih siswa saat
zamanku bersekolah putih-abu-abu. Aku masih belum bisa terima akan wajibnya ekskul tersebut hingga aku selalu
mengingat aku terpaksa bergabung di PMR.
Aku,
Shopia, Nita tidak pernah satu kelas belajar di sekolah. Nita dan Shopialah
yang pernah satu kelas belajar. Mereka
adalah takdir yang baik, kenal sejak masa ingusan hingga SMA bahkan sampai
pada saat kamu membaca tulisan ini, takdir itu masih sangat manis. Aku bagaikan
orang ke-tiga,wkwkw. Hei, kami tidak saling menyukai sesama jenis, walau belum
ada yang diberkati di altar gereja bersama lawan jenis di antara kami. Namun,
data hingga saat aku menuliskan cerita ini, Shopia, Nita,dan aku merupakan
perempuan yang sedang menjalani kisah asmara dengan lelaki berbeda individunya
apalagi itunya, hahaha
Shopia,
Nita, dan aku tanpa kesepakatan meja bundar malah menjadi mahasiswa di Medan. Sekali lagi takdir manis menegaskan,
Shopia dan Nita satu universitas. Awalnya di univesitas yang sama hingga
akhirnya sama-sama meninggalkan universitas tersebut pindah ke kampus yang tak
sama lagi menyesuaikan kebutuhan hidup masing-masing. Persahabatan kami tetap terjalin,
lewat handphone yang sudah naik kelas
dari tinuttinut saat SMA berubah
menjadi gawai (smartphone) saat di
universitas. Hal ini karena
menyesuaikan status siswa menjadi mahasiswa. Tidak mudah bagi kami bertemu
bercanda-ria secara langsung dengan janjian di mall atau di kos. Lebih sering
berhubungan dengan gawai meski satu kota kira-kira selama 4 tahun.
Persahabatan apa pula yang selalu
ada kata sulit untuk bertemu langsung? Ya, persahabatan kami. Bertemu untuk melepas rindu, berbagi cerita, serta tertawa-tiwi bukanlah prioritas kami, hingga sampai saat ini pun tetap demikian keadaannya. Akan tetapi, Shopia dan Nita tetap mengambil
peran yang baik dalam hidupku.
Aku masih ingat betul, mereka datang menjenguk
pasca operasiku di Rumah Sakit Advent Medan. Nita yang penuh kasih padaku
menyisirkan rambutku yang kusut sekali. Rambut yang berhari-hari tidak
dikeramas dan selalu diikat selama aku dirawat. Kau tahu, rambutku itu tidak
hanya super kusut tapi juga berbau apek. Iiiuuh, aku tidak tahu bagaimana Nita
menahan aroma itu, hahaha. Namun, yang kuingat dia sabar merapikan rambutku tanpa
menutup hidung dan yang paling natural tanpa ekspresi wajah yang menunjukkan
kejijikan yang hakiki. Nita semakin
bercahaya di mataku karena satu hal penting itu. Percayalah, paribannya
akan berkomentar untuk tulisan ini, komentar yang menyukakan hati Nita dan
warganet yang membacanya.
Shopia
adalah sahabatku yang terdekat dari beberapa yang ada. Aku tak tahu cara
mendeskripsikannya yang begitu manis wkwkwk. Banyak kisah yang tak terlupakan
akan kebaikannya, eakkk (mau muntah ya beb Shop). Shopiaku ini seorang yang dikelilingi keberuntungan, banyak sekali dia
membagi keberuntungannya padaku. Nah, bisa juga loh kalimat buatmu
tercipta, selamat beb. Semasa kuliahnya
dia sudah jadi andalan psikologiku. Kartu tarot pernah dimilikinya dan
dipakainya, aku ikut serta menjadi pasiennya. “Shopia, apakah kau ingat ? kartu
dengan pedang yang panjang itu yang terambil tanganku ? Kalau tidak salah
pedangnya menghancurkan batu-batu yang banyak tersusun.” Ya, lalu, Shopia jelaskan
makna kartu itu terhadap pertanyaanku sebelum memilih kartu itu.
Tak lama
kemudian, aku menonton atau mendengar khotbah dari pendeta yang menyinggung
kartu tarot. Alamak, ternyata itu merupakan bagian okultisme. Kujelaskan pada Shopia,
dengan beberapa waktu pergumulan tentang kartu itu karena belinya tidak murah, ia
memutuskan membakarnya agar tidak memainkannya lagi meskipun dulu hanya berniat
sebagai bentuk permainan semata. Sesuatu yang tidak bersesuain dengan putih tidaklah pernah ada baiknya karena asalnya dari ilmu hitam.
Belum
lagi peran baik Shopia mengorbankan tidak kuliah satu hari karena menjaga atau
merawatku di klinik. Aku tidak tahu di dalam hatinya ia menyesal atau tidak waktu
itu sampai tidak kuliah karena aku membutuhkannya. Namun, yang pasti ia telah
memilih daruratnya aku memerlukannya.
Saat
aku lulus dari jabatan mahasiswa mereka turut jadi pelengkap kebahagiaan. Kami tidak pernah berjanji untuk selalu
bersama dan saling mengasihi tetapi nyatanya bisa terwujud lebih dari
sekadar kata-kata indah itu. Sungguh, aku menerima kasih dari sahabatku.




